Bupati Soppeng Buka Review Hasil SID Optimasi Lahan Non Rawa Tahun 2026

Uncategorized7 Dilihat

SOPPENG, Warta72.com – Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, membuka kegiatan Review Hasil Survei Investigasi dan Desain (SID) Optimasi Lahan Non Rawa Tahun 2026 yang dilaksanakan di Ruang Pertemuan Gabungan Dinas, Watansoppeng, Jumat (22/5/2026).

Kegiatan tersebut merupakan tahapan strategis untuk memastikan kesiapan teknis sebelum pelaksanaan program optimasi lahan non rawa di lapangan. Melalui proses review ini, pemerintah daerah berupaya memastikan setiap rekomendasi teknis dapat mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan indeks pertanaman secara optimal.

Dalam sambutannya, Bupati H. Suwardi Haseng menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Soppeng sehingga memerlukan dukungan yang terintegrasi, mulai dari pengolahan lahan, penyediaan air irigasi, hingga penyediaan sarana dan prasarana pendukung.

Bupati menjelaskan bahwa kegiatan review SID merupakan tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya dengan agenda utama pemaparan hasil kajian teknis oleh tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin sebagai penyusun desain program optimasi lahan non rawa Tahun 2026.Menurutnya, akurasi data dan kualitas desain menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan program. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Soppeng terus mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan non rawa sebagai upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional.

Program Optimasi Lahan Non Rawa Tahun 2026 direncanakan mencakup lahan seluas 6.256 hektare yang tersebar di tujuh kecamatan, serta pengembangan sekitar 1.500 hektare di Kecamatan Liliriaja. Program tersebut sejalan dengan arah pembangunan daerah berbasis agropolitan yang menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu prioritas utama pembangunan.

Hasil review SID juga menunjukkan sinergi yang kuat dengan program prioritas Pemerintah Kabupaten Soppeng, yaitu Listrik Masuk Sawah. Berdasarkan hasil kajian, sekitar 84 persen pekerjaan optimasi lahan non rawa berupa pembangunan pompa air dan sumur bor yang memanfaatkan energi listrik sebagai sumber penggerak.

Dalam laporan SID disebutkan terdapat sekitar 533 titik sumur bor yang tersebar di delapan kecamatan. Potensi tersebut dinilai dapat mempercepat realisasi program Listrik Masuk Sawah sekaligus memperkuat sistem irigasi pertanian di Kabupaten Soppeng.

Data hasil survei mencatat sebanyak delapan kecamatan, 45 desa, dan 164 kelompok tani telah menjadi lokasi pendataan. Dari usulan awal seluas 6.256,51 hektare, hasil delineasi lapangan menunjukkan potensi pengembangan mencapai 8.315,58 hektare, atau bertambah sekitar 2.057,07 hektare.

Mayoritas lokasi diarahkan untuk peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 200 atau dua kali musim tanam dalam setahun, yakni pada 140 lokasi atau sekitar 85,4 persen dari total lokasi survei. Sementara itu, sumber air yang paling banyak dimanfaatkan berasal dari air tanah atau sumur, dengan rekomendasi pembangunan pompa air dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) pada 132 lokasi.

Selain memaparkan hasil survei, review SID juga menghasilkan sejumlah rekomendasi prioritas, antara lain percepatan pembangunan pompa air dan JIAT, penanganan lokasi yang belum memiliki sumber air, peningkatan kapasitas sumber air pada wilayah dengan indeks pertanaman masih IP 100, verifikasi kelompok tani yang terindikasi ganda, koordinasi dengan P3A dan GP3A terkait pengelolaan infrastruktur, percepatan penetapan lokasi dan anggaran, serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi secara berkala.

“Melalui proses review ini diharapkan program berjalan efektif, tepat sasaran, dan mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta indeks pertanaman petani secara berkelanjutan,” ujar Bupati.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, tim pengawas, penyuluh pertanian, serta tim LPPM Universitas Hasanuddin sebagai penyusun SID. Pelaksanaan kegiatan difasilitasi oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Soppeng bekerja sama dengan LPPM Universitas Hasanuddin.

Melalui hasil review SID ini, Pemerintah Kabupaten Soppeng berharap pelaksanaan Program Optimasi Lahan Non Rawa Tahun 2026 dapat berjalan sesuai perencanaan, menjadi acuan teknis yang komprehensif, serta mampu meningkatkan produksi pertanian, kesejahteraan petani, dan mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional.

EYS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *